Jeritan dari Senanggalih, Saat Petani Tolak Hanya Jadi Penonton di Hari Tani ke-66

LOMBOK TIMUR – Barbarpos.com Jika biasanya Hari Tani diisi upacara dan foto bersama, di Desa Senanggalih hari itu berbeda. Di bawah langit yang terik, di antara petak sawah yang retak menanti air, para petani justru menitipkan jeritan hati mereka.

Adalah PK-STN Lombok Timur, barisan Serikat Tani Nelayan yang dipimpin Tamrin, yang berani bersuara. Di momentum Hari Tani Nasional ke-66 ini, mereka tidak ingin sekadar dikenang sebagai pahlawan pangan, mereka ingin diselamatkan.

“Jangan jadikan Hari Tani hanya sebagai seremonial. Ini adalah panggung bagi kami petani untuk menyampaikan apa yang kami butuhkan di lapangan,” ujar Tamrin lantang.

Dan dari Senanggalih, lima tuntutan itu lahir. Bukan tuntutan muluk-muluk, melainkan kebutuhan dasar yang selama ini membuat petani berjalan di tempat.

Mereka pertama meminta jalan usaha tani. Bukan jalan tol, hanya jalan setapak yang layak agar hasil panen tidak lagi dipikul dengan susah payah melewati lumpur. Kedua, mereka meminta bronjongan sungai. Tiap hujan turun, jantung petani berdegup kencang, takut sawah dan rumah hanyut tergerus arus.

Ketiga, jembatan penyeberangan. Sebuah jembatan kecil yang akan menyambung harapan, menyambung akses anak-anak ke sekolah dan petani ke lahannya sendiri. Keempat, irigasi tersier. Karena tanpa air, sehektar sawah hanya menjadi tanah tandus yang menunggu mukjizat.

Dan kelima yang paling menyayat, perluasan embung rakyat. Embung yang ada kini terlalu kecil, ibarat memberi minum sekampung dengan satu gelas air. Saat kemarau datang, petani Senanggalih hanya bisa pasrah melihat padi mengering.

Lima titipan itu disampaikan langsung dalam peringatan Hari Tani di Senanggalih. Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin sejatinya ingin hadir, namun tugas negara memanggilnya ke Jakarta untuk Rakornas bersama Bank Indonesia. Pesannya pun dititipkan melalui Asisten III Setda Lotim, Khusnul Basri.

Khusnul yang hadir di tengah petani, tidak menjawab dengan janji-janji panjang. Ia menjawab dengan komitmen.

“Usulan ini kami rangkum dan kami sampaikan kepada Pak Bupati. Ini aspirasi rakyat yang harus diperjuangkan,” tegasnya, disambut anggukan dan sorak kecil para petani.

Bagi PK-STN Lombok Timur, perjuangan petani hari ini sudah bergeser. Dulu mereka berjuang merebut tanah, kini mereka berjuang agar tanah itu bisa hidup. Butuh modal, butuh teknologi, tapi di atas semua itu, butuh infrastruktur yang berpihak.

Hari Tani ke-66 dari Senanggalih menjadi tamparan halus bagi kita semua. Bahwa lumbung pangan negeri ini tidak akan pernah kokoh jika desa dibiarkan berjuang sendirian.

Dan hari itu, dari Senanggalih, petani menegaskan satu sikap.

“PK-STN Lombok Timur, bersama petani, memperjuangkan tanah, modal, teknologi untuk kesejahteraan petani. Kami tidak ingin hanya jadi penonton pembangunan,” pungkas mereka.

Bagikan: