LOMBOK TIMUR – Barbarpos.com Nasib apes dialami MBS (15), pelajar asal Desa Kembang Are Sampai. Ia dikeroyok empat pelajar lain hingga kepalanya sobek dan harus mendapat sembilan jahitan. Beruntung, kasus yang nyaris memicu konflik antardesa ini berakhir damai di Mapolsek Sakra Barat, Jumat 2 Oktober 2026.
Peristiwa berdarah itu terjadi Kamis sore 1 Oktober sekitar pukul 16.30 Wita di sebuah berugak di Dusun Montong Mesir, Desa Bungtiang. Saat itu korban sedang nongkrong bersama teman-temannya.
Tiba-tiba datang dua pelajar berinisial D (16) dan R (14) yang menanyakan masalah dengan salah satu teman korban. Tak lama berselang, keduanya kembali lagi dengan membawa dua teman lainnya, L (16) dan DK (16). Tanpa banyak bicara, mereka langsung mengeroyok korban.
MBS yang tidak berdaya berusaha menyelamatkan diri dengan berlari masuk ke rumah warga untuk meminta tolong. Kepalanya sudah berlumuran darah. Ia kemudian dilarikan ke Klinik Hasanah Bungtiang dan harus dijahit sembilan jahitan.
Tak ingin kasus melebar menjadi konflik antardesa, Polsek Sakra Barat bergerak cepat. Jumat siang sekitar pukul 14.30 Wita, Kapolsek IPDA Awaludin mempertemukan kedua kubu. Hadir juga Pj Kades Kembang Are Sampai L. Sandika dan Pj Kades Gadungmas Muhammad.
Di meja mediasi, suasana haru terjadi. Korban dengan besar hati memaafkan para pelaku dan sepakat tidak melanjutkan kasus ke jalur hukum. Para pelaku pun tertunduk mengakui kesalahan dan berjanji tidak akan mengulangi lagi.
“Jika mengulangi lagi, kami siap diproses hukum,” kata para pelaku dalam pernyataan damai tersebut.
Kapolsek Sakra Barat IPDA Awaludin menegaskan agar tidak ada aksi balas dendam setelah perdamaian ini.
Sementara Kasihumas Polres Lombok Timur IPTU Lalu Rusmaladi mengingatkan pentingnya peran orang tua mengawasi pergaulan anak, apalagi menjelang Pilkades.
“Kami mengajak seluruh pihak menjaga situasi kamtibmas menjelang Pilkades di wilayah Sakra Barat tetap aman dan kondusif serta segera berkoordinasi dengan pihak kepolisian apabila terjadi persoalan di tengah masyarakat,” imbaunya.
Mediasi berakhir kondusif. Polisi dan pemerintah desa kini siaga melakukan pemantauan untuk memastikan tidak ada konflik susulan.
