LOMBOK TENGAH – Barbarpos.com Bau limbah menyengat biasanya dihindari. Tapi di LPKA Kelas II Lombok Tengah, bau itu justru jadi ladang belajar dan harapan baru.
Selasa, 22 September 2026, pemandangan tak biasa terlihat di dalam lembaga pembinaan itu. Sejumlah anak binaan berjongkok, mengangkat nampan-nampan berisi maggot yang menggeliat. Wajah mereka sumringah, panen.
Selama 22 hari, mereka merawat sendiri budidaya maggot, dari limbah organik yang dikumpulkan, hingga menjadi pakan bernilai jual. Didampingi petugas dan peserta magang, mereka belajar memberi makan, menjaga kelembapan, sampai memanen maggot yang kini siap jadi pakan ternak.
Budidaya yang terlihat menjijikkan bagi sebagian orang ini justru menyimpan dua keuntungan besar. Lingkungan jadi bersih karena limbah organik termanfaatkan, dan hasilnya bisa menjadi pakan alternatif untuk ayam dan ikan, yang nilai jualnya menjanjikan untuk ketahanan pangan.
Kepala LPKA Kelas II Lombok Tengah, Hidayat, mengatakan ia sengaja tidak ingin pembinaan hanya berisi apel dan kurungan.
“Pembinaan bukan hanya tentang menjalani proses, tetapi juga tentang menyiapkan anak binaan agar memiliki keterampilan dan pengalaman positif yang dapat mereka manfaatkan ketika kembali ke masyarakat,” tegasnya.
Bagi Hidayat, maggot adalah simbol. Dari sesuatu yang dianggap sampah dan menjijikkan, bisa lahir sesuatu yang produktif. Sama seperti anak-anak binaannya.
Di dalam LPKA, mereka bukan hanya menjalani hukuman. Mereka sedang disiapkan untuk pulang, dengan keterampilan di tangan dan kepercayaan diri yang kembali tumbuh.
Dari balik tembok LPKA Loteng, belatung yang dulu dibuang kini dipanen. Dan dari balik jeruji itu, masa depan anak-anak ini sedang dirajut kembali.
