Untuk Belanting yang Kita Cintai, Jaya Ikhlas Siap Mengabdi

BELANTING – Barbarpos.com Ada yang berbeda di sudut Desa Belanting, Kecamatan Sambelia, hari itu. Tidak ada panggung megah, tidak ada spanduk berderet. Hanya warga duduk bersama, saling tatap, saling dengar. Di tengah kebersamaan itulah, Jaya Ikhlas, putra asli Belanting, mengikrarkan niatnya maju sebagai calon kepala desa Belanting periode 2027-2033.

Ini bukan tentang ambisi. Ini tentang pulang dan mengabdi untuk rumah sendiri.

Ketua Tim relawan, Ahmad Zaendi, menyampaikan dengan suara bergetar bahwa deklarasi ini adalah janji moral kepada masyarakat.

“Deklarasi hari ini adalah awal dari sebuah perjalanan. Perjalanan yang harus ditempuh dengan kejujuran, keterbukaan, kerja nyata, dan keberanian untuk mendahulukan kepentingan masyarakat,” ujar Zaendi.

Ia mengingatkan, Belanting tidak akan pernah maju jika hanya satu orang yang bekerja, sementara yang lain ditinggalkan.

“Desa yang kuat tidak lahir dari satu orang. Desa yang kuat lahir ketika rakyat dan pemimpinnya mau berjalan dalam satu arah. Hari ini kita mendeklarasikan sebuah niat. Besok, masyarakatlah yang menentukan arah,” tegasnya.

Jaya Ikhlas berdiri. Kalimatnya pelan, tapi menyentuh setiap warga yang hadir.

“Hari ini, sebuah niat diikrarkan. Bukan tentang siapa yang paling hebat, bukan pula tentang siapa yang paling banyak bicara. Tetapi tentang keberanian untuk berdiri, mendengar, dan berjalan bersama masyarakat,” ucapnya.

Bagi Jaya, Belanting bukan sekadar nama di peta. Belanting adalah rumah tempat ia tumbuh, tempat doa-doa dipanjatkan.

“Desa bukan hanya tentang jalan, gedung, dan pembangunan fisik. Desa adalah rumah. Di dalamnya ada petani yang menanam harapan di tengah terik matahari, ada anak-anak kita yang menggantungkan masa depan, ada para pemuda yang butuh ruang untuk berkarya, serta orang tua kita yang menjaga nilai dan sejarah desa,” ungkapnya dengan mata berkaca.

Ia paham betul bagaimana rasanya menjadi petani yang menunggu hujan, menjadi nelayan yang pulang dengan harap-harap cemas, menjadi ibu yang ingin anaknya sekolah lebih tinggi, dan menjadi pemuda yang ingin tetap tinggal membangun desa tanpa harus merantau jauh.

“Karena itu, menjadi kepala desa bukan sekadar sebuah jabatan. Ia adalah amanah untuk menjaga rumah bersama. Dari desa, untuk desa. Dengan hati yang tulus, dengan langkah yang nyata, dan dengan amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan masyarakat dan di hadapan Allah,” pungkas Jaya Ikhlas.

Deklarasi itu pun ditutup dengan doa bersama. Tidak ada sorak sorai berlebihan. Yang ada hanya pelukan hangat antar warga, tanda bahwa harapan baru sedang dititipkan.

Dengan langkah ini, Jaya Ikhlas bukan hanya mendaftar sebagai calon. Ia menitipkan hatinya untuk Belanting, untuk kita semua. (acip)

Bagikan: