Stunting, kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, masih menjadi masalah serius di Indonesia. Prevalensi stunting yang stagnan di angka 20-25 persen selama satu dekade menunjukkan bahwa pendekatan yang selama ini dilakukan belum cukup. Intervensi sporadis dan seremonial tidak akan mempan. Akar masalahnya bersifat multidimensi dan membutuhkan solusi berkelanjutan.
Akar pertama dan paling fundamental adalah kemiskinan. Keluarga miskin tidak mampu menyediakan makanan bergizi secara konsisten. Telur, ikan, tahu, dan tempe mungkin masih bisa dijangkau, tetapi daging dan sayuran hijau sering harus dikorbankan demi membeli beras. Ironisnya, dalam program bantuan sosial, distribusi makanan sering kali tidak mempertimbangkan aspek keragaman gizi.
Akar kedua adalah kurangnya pengetahuan tentang gizi dan pola asuh. Banyak ibu yang tidak mengetahui bahwa 1.000 hari pertama kehidupan—dari kehamilan hingga usia dua tahun—adalah periode paling kritis. Mereka tidak memahami bahwa ASI eksklusif harus dilanjutkan dengan MPASI yang kaya protein hewani. Mitos seperti “jangan memberi telur pada bayi karena bisa membuat bau badan” masih beredar luas di masyarakat pedesaan.
Akar ketiga adalah akses terhadap layanan kesehatan dan sanitasi. Posyandu dan puskesmas yang jauh atau minim fasilitas membuat ibu malas melakukan pemeriksaan kehamilan dan pertumbuhan anak. Akses terhadap air bersih dan jamban yang tidak memadai menyebabkan infeksi berulang pada anak-anak, yang mengganggu penyerapan nutrisi meskipun asupan makanannya cukup.
Solusi berkelanjutan harus dimulai dari penguatan sistem pangan lokal. Program perkarangan bergizi, budidaya ikan air tawar di pekarangan, dan peternakan ayam kampung skala rumah tangga dapat menjadi sumber protein yang terjangkau. Pemerintah daerah perlu mengalokasikan anggaran untuk bibit, pakan, dan pelatihan, bukan sekadar membagikan biskuit atau vitamin.
Intervensi perilaku juga krusial. Kelas memasak untuk ibu hamil dan ibu balita yang mempraktikkan langsung cara mengolah bahan lokal menjadi menu bergizi terbukti lebih efektif daripada penyuluhan satu arah. Kader posyandu perlu diberi insentif dan pelatihan berkelanjutan.
Stunting bukanlah kutukan. Dengan strategi yang terintegrasi, lintas sektor, dan jangka panjang, Indonesia bisa keluar dari masalah ini. Setiap anak berhak tumbuh menjadi generasi yang cerdas, sehat, dan produktif.