LOMBOK TIMUR Barbarpos.com – Tangis pecah di salah satu tenda Bukit Savana Dandaun, Sabtu malam (4/7/2026). Seorang anak 13 tahun, Khalifi, berteriak histeris memanggil “bapak-bapak”.
Di sampingnya, Hamzanwadi (40) terbaring tak bergerak. Ayahnya itu tak pernah bangun lagi.
Pendaki asal Desa Rempung, Kecamatan Pringgasela ini meninggal dunia di area camp Savana Dandaun, Desa Sembalun Lawang. Diduga kuat karena kelelahan ditambah riwayat diabetes yang dideritanya.
“Saya Sudah Setengah Jalan”
Cerita dimulai pukul 16.00 WITA. Hamzanwadi berangkat mendaki via jalur 2 Lendakuta bersama 4 orang. Ada Sabri (41) dan dua anaknya Rizki (10) serta Aqila (10), juga putranya sendiri, Khalifi (13).
Perjalanan masih normal. Tapi pukul 17.33 WITA, ponsel Hamzanwadi berdering. Di seberang sana istrinya, Agus Alfiani.
“Saya lelah. Dada sesak,” lapor Hamzanwadi.
“Sudah, pulang saja,” jawab sang istri khawatir.
Namun jawaban suaminya bikin Agus terdiam. “Sudah tanggung, ini sudah setengah jalan ke puncak.”
Keputusan itu yang terakhir ia ambil.
Tiba di camp, Hamzanwadi sempat muntah. Ia lalu masuk tenda untuk istirahat setelah salat. Tak ada yang menyangka, itu peristirahatan terakhirnya.
Teriakan “Bapak-bapak” Menggema di Camp
Petaka terkuak saat azan Maghrib berkumandang. Sabri yang salat di luar tenda mendengar jeritan dari tenda sebelah.
“Bapak-bapak… bapak-bapak…”
Itu suara Khalifi. Sabri langsung lari. Di dalam tenda, Hamzanwadi sudah tak sadar. Warga sekitar berdatangan. Nadi dicek. Napas dicek. Hasilnya sama: sudah tidak ada.
Panik, Sabri menelpon keluarga pukul 19.20 WITA. Dengan suara bergetar ia bilang Hamzanwadi “pingsan”. Tujuannya satu: agar keluarga di rumah tidak langsung syok.
Keluarga langsung tancap gas ke basecamp. Tiba pukul 21.45 WITA. Lima menit kemudian, tim dari pengelola, Polsek Sembalun, Basarnas Pos SAR Kayangan, dan tenaga kesehatan Puskesmas Sembalun mulai mendaki untuk evakuasi.
Jenazah ditandu dalam gelap. Jalur Lendakuta yang terjal membuat evakuasi memakan waktu.
Pukul 00.20 WITA, tim tiba di basecamp. Ambulans sudah menunggu. Tiba di Puskesmas Sembalun pukul 00.40 WITA, dokter jaga Mustiadi melakukan pemeriksaan. Tidak ada luka, tidak ada benturan.
Pukul 00.55 WITA vonis diucapkan: Hamzanwadi meninggal dunia di area camp sekitar pukul 19.20 WITA.
Jenazah diserahkan ke keluarga pukul 01.35 WITA dan langsung dibawa pulang ke Desa Rempung. Operasi evakuasi selesai pukul 02.00 WITA.
Punya Riwayat Diabetes, Polisi Imbau Pendaki Jangan Paksakan Diri
Hamzanwadi meninggalkan istri dan anak-anak di Pringgasela. Ia bekerja sebagai karyawan honorer.
Pihak keluarga mengaku almarhum punya riwayat gula darah tinggi. Hingga kini keluarga masih berembuk: apakah perlu otopsi atau tidak. Untuk sementara mereka ikhlas menerima.
Kasi Humas Polres Lombok Timur, Iptu Lalu Rusmaladi, menyampaikan imbauan keras.
“Bagi pendaki, terutama yang punya penyakit bawaan seperti diabetes, hipertensi, jantung, tolong jujur pada diri sendiri. Bawa obat, jangan memaksakan ke puncak, dan segera lapor ke petugas jika badan tidak enak,” ujarnya.
Bukit Savana Dandaun memang indah. Tapi ketinggiannya dan udara dinginnya bukan untuk ditantang dengan ego.Kisah Hamzanwadi jadi pengingat gunung akan selalu di sana. Tapi keluarga menunggumu pulang.

