PANITIA MATANGKAN PERSIAPAN SANGKEP INTERNASIONAL I BAHASA SASAK, LIBATKAN BERBAGAI PAER

MATARAM – Barbarpos.com || Upaya menghidupkan kembali kejayaan Bahasa Sasak memasuki babak baru. Panitia Sangkep Internasional I Bahasa Sasak mulai tancap gas mematangkan persiapan, dengan menggandeng berbagai unsur masyarakat dari seluruh paer di Pulau Lombok.

Rapat koordinasi dan konsolidasi digelar di Rembiga, Kota Mataram, Rabu (19/8/2026). Forum ini menjadi ajang menyatukan visi antara budayawan, akademisi, tokoh adat, komunitas, hingga pemerhati bahasa untuk memastikan kongres tidak sekadar seremoni.

Sangkep yang digagas Majelis Adat Sasak dijadwalkan berlangsung 28 hingga 30 Oktober 2026. Panitia menargetkan forum tiga hari itu melahirkan keputusan konkret, bukan hanya wacana.

“Kita ingin sangkep ini menghasilkan sesuatu yang nyata. Bukan hanya berdiskusi, tetapi melahirkan kesepakatan, rekomendasi, program prioritas, dan peta jalan bersama untuk bahasa dan sastra Sasak,” kata Ketua Panitia, Dr. Khairil Anwar, M.Pd., yang akrab disapa Chae.

Menurut Khairil, masa depan Bahasa Sasak tidak bisa ditangani satu pihak saja. Karena itu panitia sengaja merangkul pemerintah, sekolah, keluarga, lembaga adat, hingga komunitas anak muda.

Empat agenda besar menjadi fokus utama kongres. Pertama, digitalisasi. Panitia mendorong pendataan manuskrip, kamus, cerita rakyat, hingga pemanfaatan AI untuk membuat korpus digital dan platform pembelajaran Bahasa Sasak.

Kedua, pembinaan dan pengajaran. Program seperti “Gerakan Sasak di Sekolah” dan “Kelas Bahasa Sasak untuk Generasi Muda” disiapkan agar bahasa daerah kembali digunakan di ruang kelas dan rumah.

“Pembinaan tidak hanya menyasar siswa, tetapi juga guru, keluarga, komunitas, budayawan, tokoh masyarakat, dan masyarakat secara luas,” jelas Khairil yang juga Sekretaris Jenderal Majelis Adat Sasak.

Ketiga, pelestarian dan pelindungan. Tantangan besar seperti dominasi Bahasa Indonesia dan bahasa asing, serta menurunnya penutur muda, membuat pemetaan penutur, dokumentasi, dan revitalisasi berbasis komunitas menjadi penting.

Keempat, pengembangan tata bahasa, aksara, sastra, dan tata istilah. Tujuannya memperkuat fondasi ilmiah agar Bahasa Sasak punya rujukan kuat dan bisa mengikuti perkembangan zaman.

Bagi panitia, keempat fokus itu saling terkait. Digitalisasi membuka ruang baru, pelindungan menjaga warisan, pembinaan memastikan estafet antargenerasi, dan pengembangan memperkuat struktur bahasa.

Bahasa Sasak dipandang sebagai identitas sekaligus perekat sosial masyarakat Sasak. Jika tidak segera dirawat, dikhawatirkan bahasa ini akan semakin tergerus di tengah arus global.

Melalui konsolidasi bersama berbagai paer, panitia berharap Sangkep Internasional I Bahasa Sasak menjadi titik balik. Targetnya jelas: memastikan Bahasa Sasak tetap hidup, digunakan, diwariskan, dan relevan bagi generasi sekarang maupun mendatang.

Bagikan: