Lombok Timur Babarpos.com – Lucu. Di 6 desa lain, Pilkades sudah kayak pasar. Saling jegal, saling sikut, tim sukses sudah main bawah.
Tapi di Desa Dadap? Sepi. Mati.
Alasannya klasik “Incumbentnya berjasa”. “Malu nantang”. “Biarin aja, orangnya jujur kok”.
Jujur. Biasa-biasa saja. Tidak neko-neko. Itu pujian atau vonis?
Sampai ada satu kalimat yang bikin semua terdiam.”Kalau tidak ada lawan, berarti demokrasi di Dadap sudah kita kubur sendiri.”
Dari situlah Nasipudin, S.Pdi maju. Bukan karena berani. Tapi karena risih lihat desanya diperlakukan seperti milik pribadi.
Tagline-nya Tamparan: “Untuk Dadap yang Lebih Maju, Sejahtera, dan Amanah”
Amanah. Kata yang sudah terlalu sering dipakai, tapi jarang dibuktikan.
Nasipudin tidak jualan pencitraan. Visinya cuma satu yakni Desa Dadap Mandiri, Sejahtera, Berkeadilan. Modalnya Agama dan Gotong Royong.
“Jangan mimpi desa maju kalau kerjanya masih nunggu perintah satu orang,” sindirnya.
Ia bawa 5 gebrakan, bukan wacana:
1. Ekonomi Rakyat Dulu: UMKM jangan cuma difoto pas ada pejabat. Pertanian jangan cuma jadi slogan. Kasih akses, kasih pasar. Biar warga tidak terus jadi penonton di desanya sendiri.
2. Infrastruktur Tanpa Kongkalikong: Jalan rusak ya diperbaiki. Irigasi buntu ya dibersihkan. Bukan yang dekat balai desa saja yang mulus. Adil.
3. Balai Desa Buka Pintu: Dana desa itu uang rakyat. Warga berhak tahu. Transparan, cepat, tidak pakai calo. Kalau ada yang disembunyikan, berarti ada yang ditutupi.
4. Agama dan Adat Dihidupkan, Bukan Dipakai Pas Kampanye: Harmoni dijaga. Budaya dilestarikan. Bukan cuma dipakai buat narik massa.
5. Wisata dan Lapangan Kerja: Jangan terus suruh anak muda merantau. Keindahan Dadap jual. Biar uang masuk ke desa, bukan cuma keluar.
Semua ini ia lakukan saat semua orang tahu Dana Desa lagi cekak. Tapi anehnya, para calon tetap maju. Berarti masalahnya bukan di uang. Masalahnya di niat.
Sementara di Desa Lain: Perebutan Kursi Sudah Darah-darah
Kalau Dadap baru “melek”, desa lain sudah “berdarah”.
Silaturahmi? Itu kedok. Yang terjadi: rebutan simpati, rebutan pengaruh, bahkan rebutan isu buat saling menjatuhkan. Isu “black campaign” sudah mulai beredar.
Lihat saja petanya.
Di Belanting, Sukradi incumbent dikeroyok 4 orang.
Di Sugian, Lalu Mustiadi incumbent dilawan perangkat desanya sendiri.
Bagik Manis, Senanggalih, Labuan Pandan, Padak Guar. Polanya sama: Incumbent vs keramaian.
Semua berebut kursi. Dengan dalih “mengabdi”. Padahal semua juga tahu anggarannya terbatas.
Jadi Warga Dadap Mau Pilih Apa?
Pilih pemimpin karena “tidak enak”? Karena “dulu yang mekarin desa”?
Itu namanya bukan memilih. Itu namanya membayar utang budi dengan masa depan anak cucu selama 8 tahun.
Kehadiran Nasipudin itu penting. Bukan karena dia pasti menang. Tapi karena dia mengingatkan bahwa Demokrasi tanpa pilihan itu omong kosong.
Kursi Kades bukan warisan. Desa bukan perusahaan keluarga.
Sekarang tinggal warga Dadap yang jawab.
Mau tetap “aman” dengan status quo yang biasa-biasa saja?
Atau mau berani ambil risiko demi perubahan?
Pilkades ini bukan soal Nasipudin vs Rohani. Ini soal Anda vs rasa takut Anda sendiri.
Desa Dadap, pilihannya ada di bilik suara. Jangan sampai nyesel 8 tahun ke depan.

