SAKRA BARAT – Barbarpos.com || Sejak 17 Agustus, Lapangan Sakra Barat berubah jadi panggung rakyat. Tujuh malam berturut-turut. Tidak ada kursi kosong. Tidak ada sudut yang sepi.
Gawe Beleq Sakra Barat Perdana 2026 resmi menutup tirai pada Sabtu (23/8/2026) malam dengan pemandangan yang lama akan diingat warga: seribu lampion naik bersamaan ke langit, membawa doa dan sorak ribuan orang di bawahnya.
Sejak pembukaan, acara bertema “Karya Bersama untuk Semua” ini memang disiapkan bukan sekadar hiburan. Panitia ingin membuktikan Sakra Barat bisa menggelar hajatan budaya sendiri, besar, tertib, dan milik semua orang.
Dan terbukti. Setiap malam lautan manusia datang dari pelosok Lombok Timur. Dari anak sekolah sampai orang tua, dari seniman sampai petani. Mereka duduk berdempetan menonton, bersholawat, menari, dan tertawa bersama.
“Alhamdulillah, rasa syukur yang tak terhingga kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Atas nama seluruh jajaran panitia, saya M. Ilham Jauhari mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Lombok Timur, khususnya warga Kecamatan Sakra Barat, yang telah berpartisipasi aktif dan bergotong royong menyukseskan Gawe Beleq Perdana ini,” kata Sekretaris Panitia, M. Ilham Jauhari, S.Pd.I.
Rangkaian acaranya jalan seperti satu cerita panjang. Dimulai dengan hentakan Crew Alba 05 Gazali di malam pembukaan. Lalu ada Cilokak Tokol Songak dan Jangger Turun Tangis yang mengangkat kearifan lokal. Ada malam Sakra Barat Bersholawat yang membuat lapangan hening dan khusyuk. Ada Cilokok Temu Karya yang mencairkan suasana dengan canda. Puncaknya Rudat Temu Karya yang megah, dan ditutup dengan 1000 lampion yang dilepas ke udara.
Tidak ada kericuhan. Tidak ada macet parah. Aparat, pemuda, tokoh agama dan masyarakat bahu membahu menjaga.
“Kehadiran lautan manusia setiap malam di Lapangan Sakra Barat menjadi bukti betapa kuatnya rasa kekeluargaan dan cinta tanah air warga kita. Tanpa dukungan, ketertiban, dan antusiasme dari seluruh warga Sakra Barat dan masyarakat Lombok Timur pada umumnya, gawe besar ini tidak akan bisa berjalan seindah dan semegah ini,” ujar Ilham.
Ia juga memberi apresiasi khusus untuk para seniman yang mau tampil, pemuda yang jadi relawan, dan pihak keamanan yang berjaga tujuh malam tanpa jeda.
Bagi warga, Gawe Beleq ini terasa seperti reuni besar. Tapi bagi Sakra Barat, ini adalah sejarah. Untuk pertama kalinya kecamatan ini punya gawe berskala besar yang lahir dari tangan warganya sendiri.
Menutup acara, Ilham menitipkan harapan agar semangat itu tidak mati setelah lampu panggung padam.
“Gawe Beleq Perdana ini adalah awal dari ikhtiar panjang kita untuk terus memajukan kebudayaan dan mempererat tali silaturahmi. Semoga kebersamaan ini menjadi fondasi yang kokoh untuk membangun Sakra Barat yang lebih maju, harmonis, dan sejahtera,” tutupnya.
Kini tinggal satu pertanyaan yang menggantung di benak warga yang pulang sambil menenteng sisa dagangan dan membawa anak di pundak: tahun depan, lebih meriah lagi?
