Lombok Timur Babarpos.com – Suara itu akan menggema di Istana Negara. Bukan dari Jakarta, bukan dari Jawa. Tapi dari Lombok Timur.
Muhammad Aiman, santri Ponpes Irsyadul Mujahidin NW Teliah, resmi terpilih menjadi bass Tim Paduan Suara Nasional Gita Bahana Nusantara. Ia akan mengisi panggung HUT ke-81 RI pada 17 Agustus mendatang, tepat di hadapan Presiden, para menteri, dan tamu negara.
Bersamanya, ada 3 putra-putri NTB lain Muhammad Farid Firdaus dari Unram, Josefina Alexandra Virena dan Pramesti Dyah Pitaloka dari Universitas Bumigora. Empat suara, satu misi: mengharumkan Nusa Tenggara Barat di panggung paling terhormat di republik ini.
Gagal 2 Kali, Menyerah? Tidak.
Kisah ini dimulai sejak 2024.
Tahun pertama, gugur. Tahun kedua, gugur lagi. Banyak yang menyarankan berhenti. “Sudah lah, saingannya se-Indonesia.”
Tapi Aiman dan teman-temannya memilih satu jawaban coba lagi.
Dan tahun ketiga ini, doa, latihan, dan air mata itu berbuah. Dari puluhan peserta seleksi kabupaten/kota, mereka lolos. Dari 28 orang terbaik NTB di tingkat provinsi, hanya 4 yang dipilih.
Empat orang itu, adalah mereka.
Seleksinya bukan main-main. Ada uji vokal di depan juri. Ada _prima vista_ — disuruh baca notasi angka dan notasi balok langsung, tanpa latihan dulu. Salah nada, selesai.
Belum lagi karantina nasional nanti. Dalam beberapa minggu mereka harus menghafal puluhan lagu wajib dan lagu daerah. Suara harus prima, hafalan harus kuat, mental harus baja.
“Ini bukan lomba nyanyi biasa. Ini tentang tanggung jawab membawa nama bangsa,” ujar salah satu juri saat audisi provinsi di Taman Budaya Mataram.
Dibalik Bass NTB, Ada Nama Pesantren
Kalau ditanya siapa dibalik keberhasilan Aiman, jawabannya satu: Ponpes Irsyadul Mujahidin NW Teliah.
Pembinanya, Lalu Muhamad Edwin, S.Pd., tiap hari menemani latihan. Pagi habis subuh, sore habis ngaji, malam sebelum tidur. Vokal di asah, nafas dilatih, mental dibangun.
“Tidak ada kata capek. Anak-anak ini yang minta dilatih terus. Mereka tahu ini kesempatan sekali seumur hidup,” kata Edwin.
Yang paling menyentuh, dukungan dari pimpinan pondok TGH. Akhyar Rosyidi, QH., S.Pd. yang tidak hanya melepas tetapi dari awal selalu mengawal.
Mulai dari latihan di pondok, sampai mengantar langsung saat audisi provinsi. Duduk di kursi penonton, mencatat, memberi masukan.
“Beliau bilang, santri NW harus bisa mengaji, harus bisa berakhlak, dan juga harus bisa mengharumkan nama bangsa dengan cara apapun. Termasuk lewat lagu,” kenang Aiman.
Dan benar. Ini bukan kali pertama santri NW Teliah tampil di Istana. Tradisi itu sudah ada. Tahun ini, tongkat estafet kembali dipegang.
4 Suara, 1 Harmoni untuk Indonesia
Di tim nasional nanti, mereka punya tugas berbeda.
Muhammad Farid Firdaus*akan mengisi tenor yang tinggi dan kuat.
Muhammad Aiman jadi bass, penopang irama yang dalam.
Josefina dan Pramesti mengisi sopran, melodi yang menyentuh.
Empat suara, empat latar belakang, tapi satu tujuan menyanyikan Indonesia.
Bayangkan. 17 Agustus nanti, saat bendera Merah Putih naik, suara mereka akan ikut mengumandangkan “Indonesia Raya” dan lagu-lagu perjuangan. Disaksikan jutaan pasang mata lewat televisi.
Dari latihan di mushalla kecil di Sakra Selatan, ke karpet merah Istana Merdeka.
Pesan untuk NTB: Jangan Takut Bermimpi
Keberhasilan ini jadi bukti. Anak daerah bisa. Anak pesantren bisa.
Tidak perlu lahir di kota besar. Tidak perlu fasilitas mewah. Yang dibutuhkan hanya satu: pantang menyerah.
“Keberhasilan ini untuk semua. Untuk guru, untuk orang tua, untuk teman-teman di pondok, dan untuk NTB,” kata Aiman dengan mata berkaca.
Kini mereka bersiap masuk karantina nasional. Latihan intensif menunggu. Tapi semangat mereka sudah bulat.
Dari Teliah ke Jakarta. Dari santri ke duta bangsa.
Selamat berjuang, Gita Bahana Nusantara NTB. Bawa pulang kebanggaan. Bawa pulang nama baik Nusa Tenggara Barat.

